<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678</id><updated>2011-12-05T11:48:20.536-08:00</updated><category term='jurnalis'/><title type='text'>tinta maya</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-3632011972919456083</id><published>2008-08-31T23:25:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T23:31:56.797-07:00</updated><title type='text'>Jangan Ada Dusta Diantara Kita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Corporate vs Jurnalis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan hari seorang kenalan sedang dilanda masalah. Dikategorikan biasa, karena kerap menimpa profesi jurnalis. Dibilang serius, ya memang serius karena harus mengklirkan persoalan itu hingga di meja persidangan. Hendro D Laksono yang biasa saya dan kawan-kawan panggil Kang Jo, harus berhadapan dengan tim Suara Surabaya Media di kantor Disnaker Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut petikan kasusnya yang sempat dirilis AJII, Hendro dituduh membuah lembaga baru yang "bertabrakan" dengan M-COMM. Usaha yang disebut-sebut bahwa Hendro terlibat, sudah berdiri pada tahun 2002 (akta notaris). Empat tahun sebelum M-COMM berdiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ia merasa tidak melakukan pelanggaran apapun. Apalagi, sejak masuk bulan Juli atau Agustus tahun 2002 hingga sekarang, atribut yang dibebankan padanya adalah Chief Editor Majalah Mossaik, bukan manajer M-COMM. Core bisnis Majalah Mossaik dan M-COMM sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2006 hingga sekarang, tidak ada penjelasan, legalisasi status, dan updating jabatan struktural, fungsi, dan job disc Hendro. "Jadi kalau boleh saya bilang, M-COMM sebenarnya tidak pernah ada!" katanya. Mulai 19 Juli 2008 hingga 18 Agustus 2008, Hendro D. Laksono diskorsing sembari menunggu sanksi dari perusahaan atas "pelangaran" yang dituduhkan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini persidangan yang sulit. Mungkin saya kalah, saya berpikir realistis saja. Tapi saya tetap akan melawan,” katanya setelah persidangan. AJII dan LBH Surabaya diajaklah koalisi untuk melawan corporate lamanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Isi Hati Tentang Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak dari awal, Mencermati kasus Kang Jo, cukup menarik. Apalagi penulis, juga bekerja di lingkaran bidang yang sama. Dia di penerbitan, saya di broadcast. Sama-sama media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kasus Kang Jo, sontak teringat dengan cerita seseorang yang pernah saya kenal. Namanya Ade fitria novita . Tapi orang-orang Gramedia Majalah biasa memanggilnya Echi. Dia kini menjabat Redaktur Pelaksana mingguan Soccer, tabloid sepak bola keluaran raksasa media, Kompas Gramedia Grup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya, Dua tahun lalu, sekitar tahun 2006, ia tersandung masalah dengan perusahaan. Pasalnya, sang Redpel mau menikah dengan reporternya. Namun, jalan itu kian terjal karena tidak mendapat restu sang Pemred, yang usut punya usut menaruh hati pada sang Redpel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbulet memang. Gramedia tidak mengehendaki pasang suami istri bekerja dalam ‘lingkaran’ yang sama. Salah satunya masih diperbolehkan bekerja di divisi lain yang masih satu grup. Proses pengajuan kepada corporate pun sudah dilakukan Arsa, reporter yang akan menikahi Redpelnya itu. Namun apa lacur, upaya yang sudah ditempuhnya dengan susah payah dan berbagai cara membuahkan hasil buruk. Berikut tulisan Arsa yang dirilis Gramedia Majalah Undercover, pada 24 April 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah setahun lebih kasus kami berjalan. Dimulai ketika saya memohon pemindahan tugas ke PSDM pada Januari tahun lalu. Proses yang aneh dan berliku-liku. Kini, semua sudah berakhir. Setelah negosiasi, akhirnya saya dan perusahaan mencapai kesepakatan. Saya mengundurkan diri dari Tabloid Soccer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akan menandatangani nota perdamaian, sempat terbersit keraguan di benak saya. Benarkah langkah yang saya ambil ini? Apakah dengan melakukannya saya mengkhianati kebenaran? Mengkhianati kawan-kawan FKGM yang selama ini seperjuangan, rekan-rekan AJI dan LBH Pers yang senantiasa mendampingi saya meyakini kebenaran yang saya perjuangkan? Alangkah malunya saya bila memang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya, rekan-rekan AJI dan LBH Pers meyakini saya bahwa tidak ada pengkhianatan di sini. Dan, saya teringat pada ucapan Abraham Lincoln. “Kita tidak bisa memenangi semua yang kita perjuangkan. Mengalahlah pada beberapa yang tidak prinsipil, dan renggutlah kemenangan pada hal prinsipil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, saya bersedia mundur dengan beberapa syarat. Saya tidak bisa menyebutkan di sini syarat-syarat yang akhirnya disanggupi pihak corporate itu. Namun, sebagai gambaran, jika nanti mereka benar-benar memegang kata-kata mereka, tidak cedera janji dalam memenuhi syarat-syarat saya, mudah-mudahan Gramedia Majalah, terutama Tabloid Soccer akan menjadi lebih baik. Proses memanusiakan karyawan lebih mengemuka. Dan, profesionalisme lebih diutamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan uang, sejak awal saya sudah mengatakan kepada mereka bahwa itu bukanlah hal prinsipil bagi saya. Tidak ada proses negosiasi untuk masalah uang. Kecuali saya meminta pemotongan bunga utang BRI karena saya menganggap jika harus membayar sekaligus, sudah menjadi konsekuensi logis jika bunga ke depan (yang masih ada 22 bulan lagi) tidak perlu saya bayarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, begitulah akhirnya. Kiprah saya di Tabloid Soccer akan selesai pada akhir bulan ini. Saya akan meninggalkan pekerjaan saya tanpa rasa sedih. Tanpa khawatir periuk nasi keluarga yang saya bangun akan terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya adalah karena Tuhan Maha Adil. Dia Mendengar. Dengan segera, Dia menunjukkan kuasa-Nya. Mendatangkan rezeki kepada kami. Saya mendapatkan pekerjaan baru. Yang tidak saja saya anggap sesuai dengan idealisme saya, juga mendatangkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada yang saya dapat selama ini. Dua kali lipat dari take home pay saya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, dihadapkan pada karunia ini, pikiran nakal saya masih saja menyeruak. Yang kadang membuat saya tersenyum sendiri. Bagaimana tidak. Selama ini, di Gramedia Majalah, saya dianggap sebagai pesakitan. Saya adalah orang yang oleh Gramedia Majalah ditolak di mana-mana dengan alasan tidak memenuhi kualifikasi. Unit-unit enggan menerima saya (kata PSDM Majalah) karena kriteria saya tidak memenuhi syarat mereka. Saya sempat terusik. Sebegitu burukkah saya? Sebegitu tidak becuskah saya bekerja sehingga saya ditolak di mana-mana di Gramedia Majalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, saya diterima di tempat lain. Satu dari 24 orang yang diterima dari sekitar 80.000 pelamar. Mendapat gaji berlipat ganda. Diterima setelah melalui tujuh proses seleksi yang meliputi psikotes dan kemampuan bahasa Inggris, presentasi dan diskusi, kompetensi, dua kali wawancara, dan kesehatan. Dan lucunya, posisi saya nanti sama (bahkan secara jabatan struktural, lebih tinggi) dengan salah satu posisi di Gramedia Majalah yang sempat ditawarkan kepada saya namun akhirnya menolak saya karena dikatakan kriteria saya tidak memenuhi syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But, setiap orang punya penilaian sendiri. Gramedia Majalah mungkin punya kriteria sendiri. Entah apa. Yah, silakan saja. Bahkan, mungkin ke depannya saya dengan pekerjaan saya yang baru ini akan bekerja sama dengan Gramedia Majalah. Dengan mengedepankan koridor profesionalitas tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mas Daniel cs dari FKGM. Saya juga berterima kasih kepada rekan-rekan lain yang selama ini menaruh perhatian terhadap kasus saya. Dan, tentu saja kepada rekan-rekan Soccer yang selama ini selalu menyemangati saya dengan kata-kata “Semua akan berakhir. Kebenaran pada akhirnya akan muncul, dan kebusukan akan terkuak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada rekan-rekan Soccer, saya ucapkan terima kasih. Namun, kalau boleh, saya ingin berkata kepada beberapa rekan Soccer, “Kebenaran pada akhirnya memang akan muncul. Namun, tidak dalam diam. Tidak dalam jiwa-jiwa yang takluk karena dicengkeram ketakutan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oia, saya juga ingin berterima kasih kepada Pemred saya, Angry yang selama ini tanpa Anda sadari, telah menjadi guru bagi kesabaran saya. “Sebagai manusia, Anda terlahir suci. Karenanya, saya yakin pada dasarnya Anda sebenarnya orang baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah curhat Arsa dalam sebuah blog komunitas orang-orang berkantor di Jl. Panjang, Jakarta. Lantas, bagaimana dengan Kang Jo? Semoga hasil terbaik, bisa Anda dapatkan. Amin!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-3632011972919456083?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/3632011972919456083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=3632011972919456083' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/3632011972919456083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/3632011972919456083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2008/08/corporate-vs-jurnalis-jangan-ada-dusta.html' title='Jangan Ada Dusta Diantara Kita'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-7540102479162494654</id><published>2008-06-20T02:22:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T00:28:26.097-07:00</updated><title type='text'>Buta Warna Jangan Jadi Wartawan?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/SFytg3VIlDI/AAAAAAAAACs/uSwVrri48m0/s1600-h/butawarna.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/SFytg3VIlDI/AAAAAAAAACs/uSwVrri48m0/s200/butawarna.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214233248708203570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika punya kenalan, menjadi wartawan cukup gampang. Tidak berbelit. Job Seeker tidak perlu persiapan khusus. Tinggal bikin aplikasi, lantas tanya kapan interview dan berapa kisaran gajinya. Sekarang datang, lusa bisa langsung kerja. &lt;br /&gt;    Tapi, jika Anda tidak punya jejaring yang luas, jangan sekali-kali berharap lebih. Perjuangan ada di pundak sendiri. Kemampuan dan pemenuhan syarat wajib dipenuhi tanpa imbal bantuan kolega. Sepintas berat memang, apalagi untuk perusahaan media massa berskala nasional.&lt;br /&gt;    Kadang pula, syarat-syarat yang tidak akrab di mata kita, menjadi syarat tambahan yang mau tidak mau menjadi penting bagi perusahaan pencari tenaga kerja. Seperti apa yang menjadi catatan Satrio Arismunandar, yang kini menjadi produser untuk program acara ekspedisi dan petualangan salah satu stasiun televisi. Tulisan ini dibuat setahun lalu, tapi saya pikir cukup menjadi wacana menarik bagi pelaku dunia jurnalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Dikutip dari tulisan Satrio Arismunandar, 27 Maret 2007 yang termuat di gramediamajalah-undercover.blogspot.com)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini saya baca iklan penerimaan wartawan baru Harian Kompas. Salah satu syarat di sebutkan disitu: "Tidak buta warna." Saya jadi bertanya-tanya, apa sih makna tak boleh buta warna di situ?&lt;br /&gt;    Kalau untuk jadi dokter, ahli farmasi, dsb, saya bisa paham. Ahli kimia atau farmasi yang tak bisa membedakan warna bisa membahayakan keselamatan orang, karena keliru membedakan zat kimia atau campuran obat. Untuk desainer grafis, soal buta warna jelas ada pengaruhnya. Tapi reporter?&lt;br /&gt;    Kenapa saya bertanya ini? Karena faktanya: saya adalah mantan wartawan Harian Kompas yang menderita buta warna. Meskipun bukan buta warna total (saya masih bisa membedakan warna lampu lalu lintas). Toh selama saya kerja di Harian Kompas (1988-1995), tidak pernah ada masalah dengan kebutawarnaan tersebut. Saya mungkin malah termasuk salah satu wartawan yang paling produktif di masa itu (bisa dicek dari ketebalan order arsip tulisan-tulisan saya).&lt;br /&gt;    Mungkin kriteria Kompas itu agak relevan untuk wartawan seni, yang tugasnya mengulas karya seni lukis, atau wartawan mode, yang mengulas warna busana. Namun sayang sekali, jika Kompas harus menolak calon wartawan yang potensial jagoan di bidang sosial-ekonomi atau politik, hanya karena menderita buta warna (yang bukan buta warna total pula). ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-7540102479162494654?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/7540102479162494654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=7540102479162494654' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/7540102479162494654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/7540102479162494654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2008/06/buta-warna-jangan-jadi-wartawan.html' title='Buta Warna Jangan Jadi Wartawan?'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/SFytg3VIlDI/AAAAAAAAACs/uSwVrri48m0/s72-c/butawarna.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-1052465526108113625</id><published>2008-04-20T19:36:00.000-07:00</published><updated>2008-04-21T00:52:25.064-07:00</updated><title type='text'>Anda ‘Jurnalis Perjalanan’? Ah, Ada-ada Saja…..</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/SAxHkNDxNII/AAAAAAAAACM/34gW_6FLu3E/s1600-h/lucky+strike.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/SAxHkNDxNII/AAAAAAAAACM/34gW_6FLu3E/s320/lucky+strike.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191603157757670530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan. Siapa saja mungkin sudah pernah melakukan. Entah jauh atau dekat, mendatangi suatu tempat adalah perjalanan. Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko menyebutkan kata ‘perjalanan’ dengan arti, kepergian; ekspedisi; dan penjelajahan. Lantas, sebesar apa manfaat satu kata ‘perjalanan’ dalam sebuah aktifitas jurnalisme. Ini yang menggelitik saya untuk mencari-cari jawaban atas pertanyaan batin penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Hingga kini, pelabelan ‘jurnalisme perjalanan’ belum pernah terdengar sepasang telinga saya. Baik itu tersusun dalam rangkai kata travelling jurnalism, journey jurnalism, guiding jurnalism, atau apalah namanya, yang jelas sebutan untuk kegiatan itu belum mengkontaminasi gendang pendengaran. Bisa jadi, aktifitas ini masih dalam koridor citizen jurnalism! &lt;br /&gt;   Sejauh ini, saya masih belum begitu peduli terhadap pelabelan diatas. Pertanyaan batin saya masih condong kepada manfaat dari kegiatan perjalanan yang didokumentasikan hingga menjadi produk jurnalisme. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit penulis menemukan titik terang, ketika Bung Akmal memberikan tips mendokumentasikan kegiatan berbasis perjalanan dalam sebuah tulisan di sebuah milis yang dikelolanya.&lt;br /&gt;   Ia menyebut banyak manfaat yang bisa diambil. Contoh riil, ketika prosais dan penyair merekonstruksi ulang perjalanan itu dalam pelbagai bentuk kata dan kalimat kreatif nan atraktif. Bagi fotografer, perjalanan bisa diabadikan dalam komposisi-komposisi visual. Sementara satu bentuk yang lebih umum dan cepat dikerjakan adalah catatan atau kisah perjalanan yang bisa dengan lekas dipublikasikan di media massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tips dari wartawan Tempo ini meski yang bersangkutan juga merujuk dari catatan Martin Li, seorang penulis perjalanan dan fotografer asal Inggris yang biasa menulis untuk Travel Intelligence, London, yang dirilis dalam milis apsas ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan perjalanan adalah bagian dari reportase, bagian dari catatan harian, dan bagian dari penyediaan informasi bagi pelancong atau mereka yang hendak melakukan perjalanan. Penulis perjalanan melakukannya dengan beragam gaya dan teknik yang berbeda.&lt;br /&gt;   Dari sisi pembaca, tatkala membaca tulisan perjalanan, mereka mungkin berharap bisa turut merasakan apa yang dialami penulis. Karena itu penulis perlu melibatkan diri dalam tulisan dengan mengungkapkan pengalamannya ketika melakukan perjalanan.&lt;br /&gt;Tentu, seorang penulis kisah perjalanan tidak sekadar menceritakan pengalamannya, tetapi juga mendeskripsikan tempat dan aktivitasnya. Dengan demikian, pembaca selain turut merasakan pengalaman penulis, juga mendapat informasi tentang lokasi yang menjadi tujuan perjalanan serta peristiwa yang menyertainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Segar&lt;br /&gt;Berikan sudut pandang yang segar, jika mungkin, meliputi beberapa pokok permasalahan yang tidak biasa. Kreatiflah dalam menulis perjalanan, termasuk dalam menggunakan gaya bahasa seperti metafora dan simile yang penuh daya dan orisinal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Personal&lt;br /&gt;Ambil pendekatan sendiri untuk sebuah tempat yang dikunjungi, sebuah aktivitas yang anda coba lakukan atau sebuah petualangan mendebarkan yang sedang anda kerjakan. Apa yang sesungguhnya menginspirasi anda? Kenali dan jelaskan kepada pembaca. Cerita harus memiliki suara dan sudut pandang personal. ingatlah bahwa sebagian besar tempat yang anda tulis, sangat mungkin sebelumnya SUDAH ditulis orang lain. Ini merupakan tantangan untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan orisinal untuk dikatakan kepada pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jenaka &lt;br /&gt;Tulisan perjalanan hendaknya memiliki sebuah nada yang cerah, cemerlang, hidup, dan jenaka. Perjalanan adalah sebuah proses berangkat dari yang familiar menuju kepada yang asing dan tidak familiar, sering kaya akan peristiwa komedi dan jenaka. Masukkan komedi ke dalam tulisan di tempat yang patut dan jangan takut membuat pembaca tertawa. Juga, jangan takut untuk memasukkan ”kecelakaan”, misalnya, ke dalam bagian-bagian tulisan. Tak perlu ‘jaim’, ini dapat menjadi seperti bacaan berharga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Surprise&lt;br /&gt;Beri kejutkan kepada pembaca. berikan pembaca sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang hanya diketahui sedikit orang—tentang suatu lokasi misalnya. Lakukan ini dengan mencoba aktivitas yang tidak biasa, bertemu dengan orang-orang yang baru, terlibat ke dalam adegan yang asing ketika berada dalam sebuah perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Seimbang &lt;br /&gt;Tulisan perjalanan harus memadukan observasi personal, deskripsi dan komentar dengan informasi praktis yang berguna bagi pembaca. jadi, ada keseimbangan yang cermat antara pengalaman personal, deskripsi lokasi, deskripsi kegiatan atau peristiwa. Dan ingat, bahwa saat menulis sebuah kisah perjalanan, anda juga seorang wartawan sehingga akurasi fakta tetap harus diperhatikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kutipan&lt;br /&gt;Untuk memperkaya tulisan kutip komentar teman perjalanan atau pengunjung suatu kegiatan atau lokasi. Silakan mereka mengekspresikan perasaan mereka, kengerian, atau ketakjuban mereka tentang suatu tempat atau kegiatan yang sedang berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, setelah sebuah tulisan perjalanan selesai digubah, mau dikemanakan? dipampang di blog pribadi atau dikirim ke media umum. Terserahlah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-1052465526108113625?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/1052465526108113625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=1052465526108113625' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/1052465526108113625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/1052465526108113625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2008/04/anda-jurnalis-perjalanan-ah-ada-ada.html' title='Anda ‘Jurnalis Perjalanan’? Ah, Ada-ada Saja…..'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/SAxHkNDxNII/AAAAAAAAACM/34gW_6FLu3E/s72-c/lucky+strike.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-5751469840231014519</id><published>2007-11-29T23:49:00.002-08:00</published><updated>2008-04-02T00:59:04.152-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalis'/><title type='text'>Ketika Etika (Belum) Jadi Primadona</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/R0_MkG3X88I/AAAAAAAAABI/tVd-QEmc3yo/s1600-R/REWEL.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138550620543251394" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/R0_MkG3X88I/AAAAAAAAABI/OhHcqsKclTM/s400/REWEL.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Polisi, dipagari etika. Dokter, dibentengi etika. Wartawan, ‘tersekat’ etika?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga) keluaran Balai Pustaka 2002, Etika bisa didefinisikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tak heran bila di dunia kepolisian, etika sangat dijunjung tinggi sebagai pagar pembatas perilaku (attitude) punggawa pengayom masyarakat ini dalam kehidupan pribadi, termasuk bersifat tegas terhadap perselingkuhan dan poligami. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara di dunia pengobatan klinis, dikenal dengan etika kedokteran. Kali ini etika tersebut cukup memberi garis batas terhadap tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang berprofesi dokter. Etika kedokteran menjadi pedoman untuk menghindarkan tindakan di luar kewenangan profesi, termasuk menghindarkan kegiatan malpraktik. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bila kata etika ditarik dalam ruang jurnalisme, maka para pengendali dan pelaku kegiatan jurnalistik juga dibatasi etika dalam setiap aktivitas kerjanya. Jangan merasa salah bila seorang berprofesi wartawan lantas kehilangan predikat gara-gara tidak mematuhi etika. Jangan salahkan pula jika perusahaan media massa lantas digugat, disomasi, hingga pada akhirnya dilurug massa akibat tidak ber-‘etika’ dalam pemuatan laporannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menarik ketika Sirikit Syah membeberkan fakta dari 1998 sampai 2007 mengenai pelanggaran etika jurnalistik media lokal dalam sebuah materi seminar bertajuk ‘Pelanggaran Etika Pers dalam Berita Privasi dan Pengaduan Pemberitaan ke Dewan Pers’ beberapa waktu lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia menyebutkan tingkat kesalahan pers secara kualitas berubah dari yang sifatnya ‘ngawur’ dan ‘liar’, menjadi ‘main-main’, ‘nakal’, serta ‘tidak serius’. Belum lagi kesalahan karena ketidak tahuan (ignorance) sangat berkurang frekuensinya, dan yang masih mencemaskan adalah kesalahan sengaja karena hidden agenda (framing, agenda setting, dan vested-interest).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Setidaknya ada 5 ragam pelanggaran media yang meliputi penggunaan bahasa, pemuatan foto, pelanggaran privasi, misleading, dan trial by press,” kata wanita yang masih aktif di LKM-Media Watch. Sebuah kontradiksi pers juga diungkapkan bahwa seringkali pers tetap membuat dan menyiarkan judul atau menulis berita, meski kala itu sumber berita tidak berkenan untuk difoto dan menjadi sumber berita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Atmakusumah Astraatmadja berpendapat, media massa kini sudah sedemikian jauh hingga sampai-sampai melanggar etika pers tentang kehidupan pribadi atau &lt;em&gt;privacy&lt;/em&gt;. Lebih mengejutkan lagi ketika media arus utama (mainstream) yang bergengsi malah kerap melaporkan berita sensasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam etika pers, setidaknya ada empat kategori masalah pribadi yang dilindungi oleh Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yaitu perawatan kesehatan dan pengobatan, kelahiran, kematian, dan perkawinan. Ketika menyebar luaskan pemberitaan mengenai empat kategori ini, maka seorang wartawan harus memperoleh izin dari subyek berita yang bersangkutan atau dari keluarga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasal 2 pada KEJ yang dikukuhkan Dewan Pers pada 24 Maret 2006 menyebutkan, ‘Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik, dan bersifat profesional termasuk menghormati hak privasi’. Karena hal inilah penyajian berita dalam media massa harus terbatas dari koridor ruang yang bersifat privat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Comberan Itu Fenomenal…. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Realistiskah ketika etika pers dibenturkan dengan unsur bisnis media massa kelas bawah yang berharap ‘nafas’ kehidupan dari berita sensasional? Meski akhir-akhir ini kampanye mengenai etika pers sedang mengemuka demi pembelajaran menuju media massa yang ideal, namun kegiatan peliputan hal-hal berkaitan dengan peristiwa yang sedikit ‘haram’dari ruang etika pers tetap menjadi primadona.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak merasa heran ketika pemberitaan di ‘luar batas’ etika menjadi populis bagi mereka berpredikat media massa berkelas menengah dan ber-‘strata bawah’, mengingat pemberitaan yang mengandung unsur human interest disajikan secara heboh, penuh sensasi, dan tersaji secara nge-pop menjadi bacaan dan tontonan menarik bagi khalayak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah seorang pimpinan media massa bersegmen kriminal pernah berujar pada saya, “Meski materi berita pada media ini sedikit menyimpang dari tataran etika pers, tapi ini memang yang dimau pasar. Apalagi persaingan media kian ketat, tinggal bagaimana kita menyikapi serapan pasar yang masih berpeluang.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lukas Luwarso menyebut media massa diatas termasuk media &lt;em&gt;comberan&lt;/em&gt;, maka saya menyebutnya sebagai media fenomenal. Betapa tidak, berkat memanfaatkan peluang bisnis yang minoritas (kalangan bawah), media massa berformat tabloid ini di tahun pertamanya setiap edisi bisa beroplah 25.000. Di tahun kedua, tirasnya menanjak ke angka 40.000. Tahun berikutnya kian melejit, 60.000 eksemplar beredar di pasaran. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin benar apa yang dikatakan Dhimam Abror Djuraid ketika menjelaskan secara gamblang mengenai kategori &lt;em&gt;Best Practices&lt;/em&gt;. Gumam saya cukup sederhana, media massa kelas comberan ini tidak sepenuhnya salah dalam ruang etika pers. Kegiatan jurnalistik yang dilakukan pun tidak begitu menyimpang, hanya saja posisinya berada pada kategori &lt;em&gt;Less Good Practices&lt;/em&gt;, mungkin juga pada level &lt;em&gt;Bad Practices&lt;/em&gt;, sehingga dengan mudah dipandang sebelah mata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertanyaannya adalah bagaimana memposisikan sebuah media massa dalam sebuah tataran bisnis yang diharapkan. Ibarat seorang pemancing di laut, dia bebas menentukan ikan incaran yang beragam dengan umpan semaunya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika berprofesi sebagai pekerja media massa, tinggal Anda memilih tempat kerja berorientasi jurnalisme ber-kaidah atau jurnalisme 'bawah tanah' yang sama-sama memburu laba? Bagi saya, itu saja!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;oleh : fonda august / support foto : boby noviarto&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-5751469840231014519?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/5751469840231014519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=5751469840231014519' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/5751469840231014519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/5751469840231014519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2007/11/ketika-etika-belum-jadi-primadona.html' title='Ketika Etika (Belum) Jadi Primadona'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/R0_MkG3X88I/AAAAAAAAABI/OhHcqsKclTM/s72-c/REWEL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-5610549570692788267</id><published>2007-08-07T00:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T00:49:30.820-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalis'/><title type='text'>Nostalgia, Blog, dan Citizen Jurnalism!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/RrgkYWhIzII/AAAAAAAAAAc/GFA12Z2qKQ8/s1600-h/ilust+blogger.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095862979149745282" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/RrgkYWhIzII/AAAAAAAAAAc/GFA12Z2qKQ8/s320/ilust+blogger.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: Fonda August &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;S&lt;/span&gt;eingat saya, satu atau dua dasawarsa yang lalu, buku harian seolah menjadi primadona penyuka hobi corat coret dan tulisan. Tanpa bingung rangkai kata-kata yang benar dan berstruktur, kegalauan jiwa, perasaan tanpa arah, nostalgia percintaan, tragedi berujung trauma, draf acara, jadwal kerja, semua tertuang dalam sebuah catatan harian yang tertumpah dalam helaian kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;B&lt;/span&gt;uku harian menjadi sebuah sarana atau wadah memutar waktu bernostalgia pada sebuah memori yang kapan saja hilang dari ruang ingatan. Buku harian, bisa menghadirkan sebuah senyum kecil, senyum masam, senyum sinis, bahkan senyum lebar ketika sang penulis membaca kembali rangkaian kalimat yang pernah disusunnya. Kala itu, buku harian tak ubahnya sebuah tren menumpahkan curahan hati seorang diri tanpa berharap imbal kasih. Tren yang digandrungi banyak pemuda, pemudi. Meski hingga kini, daya magnetnya belum sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;W&lt;/span&gt;aktu memang tidak bisa dibendung. Tiap detik, tiap menit, tiap jam, hingga tiap tahun, waktu menghasilkan buah pikiran segar. ‘Produksi’ teknologi tidak bisa dihambat untuk menghasilkan sebuah inovasi. Dan, ‘buku harian’ tidak bisa mengelaknya. Tumpukan helai kertas, kini sudah terganti dengan tumpukan ‘kertas’ kaca. Kini eranya komputerisasi, wabahnya sudah meradang kemana-mana, buku harian harus mau jadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;P&lt;/span&gt;opularitasnya terpinggirkan dengan satu kata bernama ‘Blog’. Beberapa tahun terakhir, blog cukup memesona pecinta tulis menulis. Jika buku harian bersifat tertutup, maka blog lebih populis dan bisa diakses siapa saja yang berminat membaca. Anda, Dia, atau Mereka, bebas membuka, membaca, dan mengomentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;B&lt;/span&gt;eragam definisi menerangkan arti kata sebuah blog. Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Balai Pustaka, menjabarkan blog yang disesuaikan dengan arti pertama dengan ‘kata, frase atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktifitas; batasan (arti);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;D&lt;/span&gt;alam sebuah catatannya, Enda Nasution, Bapak Blogger Indonesia, sempat mendefinisikan blog sebagai cara mudah untuk mengenal kepribadian seorang blogger. Topik-topik apa yang dia sukai dan tidak dia sukai, apa yang dia pikirkan terhadap link-link yang dia pilih, apa tanggapannya pada suatu isu. Seluruhnya biasanya tergambar jelas dari blog-nya. Karena itu bersifat sangat personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;L&lt;/span&gt;abibah Zain, pendiri Blogger Family pernah berpendapat dalam sebuah catatannya pada 2005 lalu. “Web dan log (weblog) adalah media dimana pemiliknya menuliskan catatan pribadi, opini berupa tulisan maupun gambar yang bisa terus diperbarui dan diakses melalui internet. Pemilik weblog-disebut weblogger-bebas mencurahkan pemikiran baik berupa tulisan maupun gambar disitu, melengkapi dengan desain yang diingini dan melengkapinya dengan fasilitas yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pemilik dan pengunjung weblog-nya,” begitu jelasnya dalam sebuah artikel yang dimuat salah satu koran besar nasional kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Blog = Jurnalistik, Jurnalistik ≠ Blog?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;B&lt;/span&gt;log bisa menggugah minat penikmat layanan internet, blog bisa menghipnotis siapa saja untuk memanfaatkan. Blog bisa mempopulerkan seseorang, tapi blog juga bisa menceburkan seseorang dalam koridor cibiran dan kegeraman. Tak heran bila di Malaysia, fenomena blog tengah digodok perundang-undangannya yang mengatur tulisan bernada fitnah, bohong, dan negatif lain, mengingat keberadaan blog di negeri jiran itu digunakan sebagai&lt;br /&gt;oase infomasi alternatif disamping media massa umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;M&lt;/span&gt;emang beberapa waktu lalu di negara Petronas itu sempat digegerkan dengan rasa kegeraman dan kejengkelan Menteri Pariwisata Malaysia terhadap blogger Indonesia yang mengungkap rasa ketidak puasannya saat meliput pariwisata negara itu, padahal ia diundang secara resmi. Sang menteri berujar, “Tulisan itu tidak benar, Seorang penulis itu pembohong yang menyia-nyiakan waktunya untuk menulis blog.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;P&lt;/span&gt;ertanyaannya adalah apakah blog termasuk produk jurnalistik, blogger layak disebut jurnalis, apakah blog bisa disejajarkan dengan &lt;em&gt;citizen jurnalism&lt;/em&gt;? Jadi ingat saya apa yang sempat ditulis Indah Julianti Usmar Sibarani, tentang uraian, takaran, dan posisi blog dalam sebuah tataran ruang jurnalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;M&lt;/span&gt;erujuk dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang ‘Pers yang meliputi media cetak, media elektronik, dan media lainnya, sebagai sarana mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan’. “&lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt;, mungkin blog bisa masuk dalam kriteria media lainnya dalam undang-undang diatas. &lt;em&gt;Toh&lt;/em&gt;, bisa dilihat, dibaca, dan diakses khalayak,” gumam hati saya yang sepikiran dengan penulis jika menyebut blog sebagai produk jurnalistik, apalagi bila menerapkan ‘aturan’ KEJ yang harus memenuhi unsur 5 W + 1 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;N&lt;/span&gt;amun jika menilik Pasal 1 ayat (1) tentang pelaksanaan kegiatan jurnalistik dan Pasal 1 ayat (4) menyebutkan Bab I Pasal 3, Bab II Pasal 5 dan Bab III Pasal 13, maka para blogger harus melakukan kegiatan jurnalistik seperti peliputan, menyebutkan dengan jelas sumber informasinya, menyatakan identitas yang jelas kepada narasumbernya, dan dalam tulisannya tidak mencampur adukkan antara fakta dengan opini sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;P&lt;/span&gt;ersoalannya, apakah semudah itu? Memang tidak gampang meletakkan posisi blog sebagai produk jurnalisme. Batasan blogger penulis peristiwa (blog jurnalis) dengan citizen jurnalism memang tipis, belum ada pagar pembatas yang akurat. Paling tidak kebosanan membaca, mendengar dari media massa bisa terobati dari perkembangan teknologi berupa blog yang notabene wadah informasi alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;P&lt;/span&gt;aling tidak, alangkah baiknya jika para blogger mampu memahami kaidah jurnalistik dan menerapkannya dalam sebuah blog pribadi. Keuntungan yang didapat bisa menyalurkan hobi menulis, mampu dinikmati khalayak, dan paling krusial bisa terbebas dari jerat hukum laiknya di negeri Paman Sam, Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;J&lt;/span&gt;ika Anda bisa menulis, punya blog pribadi, dan sudah di &lt;em&gt;publish&lt;/em&gt;, mengapa tidak ‘bekerja’ pada blog Anda sendiri? Sekarang Anda-lah bosnya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-5610549570692788267?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/5610549570692788267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=5610549570692788267' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/5610549570692788267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/5610549570692788267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2007/08/nostalgia-blog-dan-citizen-jurnalism.html' title='Nostalgia, Blog, dan Citizen Jurnalism!'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/RrgkYWhIzII/AAAAAAAAAAc/GFA12Z2qKQ8/s72-c/ilust+blogger.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-8896107150005571567</id><published>2007-06-23T01:55:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T00:49:30.821-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/RnzyfNJY_-I/AAAAAAAAAAU/W_wsVXLZDnM/s1600-h/P2240389.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079201097685991394" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/RnzyfNJY_-I/AAAAAAAAAAU/W_wsVXLZDnM/s320/P2240389.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;7 Alasan Datangi FJB 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, yang juga berprofesi sebagai jurnalis media massa bersegmen wanita (Venus Magazine) rasanya enggan untuk meninggalkan acara unik dan pastinya meriah macam Festival Jajanan Bango (FJB) 2007. Ada banyak hal yang melandasi &lt;em&gt;need &lt;/em&gt;saya untuk tidak meninggalkan acara tahunan ini, jika berhitung ada tujuh alasan mengapa saya mewajibkan hadir pada 5 Mei 2007 di FJB Surabaya (Lap.Basuki Rahmat).&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, karena tuntutan pekerjaan yang harus meliput seputar aktifitas FJB 2007, dimana aktifitas sekaliber FJB 2007 nyaris jarang ditemui di Surabaya. Mengapa demikian? Urusan kuliner di Surabaya memang hebat dan banyak ragamnya, tapi jika bicara helatannya (even) jangan harap lebih. Paling-paling jika ada peringatan HUT kota Surabaya, tandingannya jelas Festival Rujak Uleg dan acara bertajuk Festival Makanan Rakyat (2007 dihelat di Ps. Genteng). Selebihnya, no way….!&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, rasa penasaran yang mendera ketika saya tahu setiap tahunnya tema FJB senantiasa berubah. Merujuk dari pengalaman tahun lalu, FJB 2006 yang digelar di Balai Kota Surabaya mengusung konsep ‘pasar malam tempo dulu’ dengan menghadirkan tontonan layar tancap (orang Surabaya menyebutnya demikian), cukup mendapat apresiasi masyarakat. Langsung saja satu kalimat tersemat pada otak saya, ‘tahun ini apa ya konsepnya?’. Dan terjawab sudah dengan tema ‘Aneka Makanan Tradisional Nusantara’, FJB 2007 setidaknya sudah mengobati rasa penasaran saya dengan segala aktifitas didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, meski saya berbadan kurus, jangan heran jika saya doyan makan. Apalagi saya mempunyai kebiasaan buruk, kalau sedang stres pasti mencari makanan dimana saja. Berdasar alasan ini, FJB 2007 tidak lantas ditinggalkan meski saya tidak bisa makan banyak. Tapi kelebihannya saya bisa mencicipi banyak macam menu, karena tersaji 42 penjaja makanan. Mau makanan populer asli Surabaya, atau makanan khas Duta Bango (Jakarta, Bandung dan Medan). Dari puluhan menu itu, Bika Ambon Zulfaida dari Medan yang mampu bikin ‘orgasme’ selera kuliner saya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, berharap mendapat sesuatu yang lebih selain wisata kuliner, FJB 2007 menjawabnya dengan menghadirkan tarian tradisional asal Madura (Tanduk Majeng), Reyog Ponorogo, parodi band Kuch-Kuch Hota Hai, demo masak, atau pula games interaktif. Kebetulan saya orang Surabaya tulen, pastinya hiburan-hiburan semacam itu bisa menjadi oase penangkal stres warga metropolis. Rasanya tidak hanya saya yang masih muda, bagi mereka warga Surabaya yang sudah berumur bisa memanfaatkan hiburan bernuansa tradisional disana sebagai pelepas penat.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelima&lt;/em&gt;, berkaca pada tahun sebelumnya perhatian penyelenggara secara penuh terhadap keamanan dan kenyamanan yang membuat saya cukup bersimpati. Bagi saya menghadirkan rasa aman dan nyaman bisa menjadi kunci sukses suatu gelaran acara, apalagi di tahun ini menghadirkan satu terobosan baru semacam arena bermain anak-anak (play ground). Imbasnya cukup positif bagi pengunjung keluarga dimana anak-anak bisa asyik bermain, sedangkan orangtua bebas untuk berkeliling hunting makanan. Anak senang bermain, orangtua asyik belanja tanpa rasa was-was. Klop sudah!&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keenam,&lt;/em&gt; faktor Simbiosis Mutualisme! Saya sangat ingin tahu seberapa besar magnet even ini terhadap peluang bisnis yang lain. Pikir saya cukup sederhana, adanya FJB 2007 di Surabaya cukup memberikan dampak positif bagi warga di lingkungan kota Pahlawan ini. Misalnya saja bermunculan pedagang-pedagang asongan yang sengaja atau tidak sengaja mendadak berkumpul menjajakan dagangan didepan pintu masuk area FJB 2007, juga mendadak pula lahan parkir trotoar muncul tiba-tiba. Karena fenomena ini, setidaknya lahan rejeki dadakan sudah mampu menguntungkan orang-orang di sekitar. Inputnya bagi FJB 2007, paling tidak keberadaan mereka ini cukup menjadi magnet perhatian bagi pengguna jalan Basuki Rahmat, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketujuh&lt;/em&gt;, adalah strategisasi. Pusat kota merupakan pilihan tepat, dimana lokasinya bisa dengan mudah diakses dari segala penjuru daerah. Namun sayang, helatan yang begitu besar dengan segala dampak kemacetan lalu lintasnya kurang terpikirkan secara serius. Dan satu lagi, mungkin saya termasuk salah satu orang yang mengeluh dengan lahan parkir yang tidak representatif, mengingat untuk menitipkan motor sementara saja harus mondar-mandir tidak karuan, apalagi pengunjung yang naik kendaraan roda empat. Yah, ujung-ujungnya parkir gelap menjadi pilihan saya, yang mau tidak mau harus bayar jasa Rp.2000,-.&lt;br /&gt;Sudahlah, bagi saya semua itu sebuah pengalaman yang mengasyikkan. Kalau memang nantinya FJB digelar tiap tahun, kenapa kita (warga Surabaya) harus rekreasi ke luar kota, kita tunggu saja kedatangannya sebagai pelepas ‘dahaga’ wisata kita. Sampai ketemu FJB 2008! – (naskah: fonda august /foto:bambang)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-8896107150005571567?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/8896107150005571567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=8896107150005571567' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/8896107150005571567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/8896107150005571567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2007/06/7-alasan-datangi-fjb-2007-bagi-saya.html' title=''/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tr-ZFez76S8/RnzyfNJY_-I/AAAAAAAAAAU/W_wsVXLZDnM/s72-c/P2240389.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-496171494742935984</id><published>2007-05-23T03:04:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T00:49:30.821-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalis'/><title type='text'>Waspadai, Stroke Mata!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Stroke Mata (Bisa) Akibatkan Buta Permanen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Stroke, diyakini  satu dari sekian penyakit paling menakutkan. Stroke tidak hanya menyerang otak, organ tubuh seperti mata juga tidak luput dari bidikannya. Lantas?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menurut dr. Armanto Sidohutomo,SpM, stroke mata atau yang biasa disebut Central Retinal Arteri Occusion (CRAO) ini merupakan salah satu penyakit mata yang paling menakutkan, karena adanya pembuntuan arteri retina sentralis. Dimana, dampak paling ironis bisa menyebabkan kebutaan mata secara permanen.&lt;br /&gt;            Pembuntuan arteri retina sentralis ini bisa diakibatkan adanya penyumbatan suplai darah pada saluran pusat syaraf mata karena kekentalan darah, umumnya sumbatan ini bersifat mendadak pada pembuluh darah arteri dan vena, serta gangguan pada lapisan dalam retina. Sumbatan ini bisa dikarenakan adanya fraksi darah yang mengendap, faktor udara dalam saluran syaraf, serta obat-obatan yang kental.&lt;br /&gt;            Ada dua sifat stroke mata atau CRAO yakni permanen dan transient. Khususnya yang permanen alias kadaluarsa, peran mata sudah mengalami kebutaan secara terus menerus. Sementara yang bersifat transient mempunyai ciri kadang datang dan pergi (insidentil). “Beberapa dokter mata dan rumah sakit kini sedang memerangi sifat yang kedua ini, karena sebelum terlanjur ke arah kebutaan permanen,” tegas dokter spesialis mata RS. Mata Undaan ini.&lt;br /&gt;            Beberapa tahap pengobatan bisa dilakukan dengan Massage Bola Mata (pijatan). Melakukan sobekan pada bola mata untuk keluarkan sebagian cairan atau menggembosi bola mata (Parasintesa). Serta mengobati dengan pola Farmako Therapy alias penggunaan obat-obatan seperti pelebar pembuluh darah, penghancur fraksi darah, anti pengendap, serta mengobati penyakit yang menjadi faktor risiko (kolesterol, hipertensi, dan diabetes mellitus).&lt;br /&gt;            Sementara itu penderita penyumbatan arteri cabang atau Branch Retinal Arteri Occusion (BRAO) bisa diatasi dengan tekhnik pengobatan lapang pandangan menggunakan alat bernama Humprey Visual Field. Baik CRAO dan BRAO, tetap saja 80% penderita penyakit ini berusia 40 tahun keatas.&lt;br /&gt;            Demi menangkal stroke mata diperlukan gaya hidup sehat. Kalau mempunyai penyakit dari faktor risiko stroke mata sebaiknya dimonitor secara ketat dan hidup bermotto sehat. Perlu olah raga istiqomah dengan maksud olah raga rutin setiap hari setengah jam ketimbang seminggu sekali empat jam.&lt;br /&gt;Butuh juga hindari stres yang berlebihan, kegemukan (obesitas), serta menjauhi makanan cepat saji yang dianggap makanan ‘penghasil’ kolesterol tinggi. Serta hindari posisi yang statis semisal duduk didepan komputer selama 6 jam lebih, baiknya setiap 2 jam sekali lakukan straching (peregangan) selama 5-10 menit. – fonda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-496171494742935984?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/496171494742935984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=496171494742935984' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/496171494742935984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/496171494742935984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2007/05/waspadai-stroke-mata.html' title='Waspadai, Stroke Mata!'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-4681126565556147282</id><published>2007-05-14T21:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T00:49:30.822-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalis'/><title type='text'>Bubur 'chinese' Madura</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bubur Madura Pasar Atom&lt;br /&gt;Bertahan di Tengah Banjir Food Court&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gerusan makanan modern yang kian berkembang di tengah kehidupan masyarakat, ternyata tidak membuat beberapa makanan tradisional menjadi tersingkir. Bubur Madura misalnya, meski hanya mengandalkan ‘semangat’ jajan pasar, tetap saja masih digandrungi khalayak, tak terkecuali orang-orang berduit. Mau tahu?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;SIANG itu waktu menunjukkan pukul satu siang kurang seperempat (12.45) WIB, saya yang sudah berada di areal parkir coba bergegas untuk segera mencari tahu di mana segerombolan orang jual bubur menjajakan barang dagangan. Tanpa berlama-lama dan tidak mencoba basa-basi, kami pun bertanya pada salah satu satpam Pasar Atom yang memang keberadaannya tidak jauh dari tempat parkir motor.&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan informasi dari pria tegap tersebut, sesegera mungkin kami mengikuti instruksinya. Menyisiri areal parkiran yang terbentuk bak aliran air sepanjang kira-kira 200 meter, kami pun langsung disapa plakat tergantung yang bertuliskan ‘Bubur Madura’.&lt;br /&gt;Ya, rupanya tidak sulit mendeteksi keberadaan Bubur Madura khas Pasar Atom Surabaya. Sejenak pas berada di area dagang bubur ini suara riuh langsung memekakan telinga, “Bubur’e, ayo bubur’e yang. Ayo yang bubur madura’e.” Setidaknya kalimat itu terdengar sahut-sahutan dari mulut penjaja bubur.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Buka Jam Satu Siang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagi Anda yang ingin mengunjungi walau hanya ingin melihat atau mencicipi makanan khas tradisional itu, janganlah coba-coba untuk datang di bawah jam 12. Sebab, Anda pasti akan kecewa berat lantaran segerombolan penjaja bubur tidak bakal Anda temui, karena mereka terbilang kompak untuk mulai menjual makanan bersantan ini di kisaran jam 1 siang.&lt;br /&gt;Itu pun kadang tidak semua mulai berjualan, terkadang satu dua penjaja saja yang sudah siap menggelar dagangannya. Namun, jangan khawatir agak siangan sedikit atau sekitar jam 2 siang, Anda akan menjumpai tidak lebih dari 5 penjual bubur tersebut. Waktu berjualan pun dibatasi oleh pihak Pasar Atom sebagai pengelola lahan, mereka diberi kesempatan untuk berjualan hingga jam 5 sore. Jadi efektivitas dagang mereka hanya 4 jam saja.&lt;br /&gt;Meski begitu jangan remehkan omzet harian yang dihasilkan. Sebesar Rp.150 ribu-250 ribu sudah mampu dikantongi mereka dari penjualan makanan yang terdiri atas lopes, ketan, klanting, jongkong, ijo-ijo, talam, ketan ireng, sum-sum, kasaran, biji salak, dan santan.&lt;br /&gt;Seperti diungkapkan Siti Aisyah (22) salah satu pedagang bubur, “Dalam sehari ya gak mesti dapat uang berapa, tapi kalau itung-itungan kasar bisa sampai Rp. 250 ribu. Tapi kalau sepi, Rp.150 ribu juga dapat kok.” Omzet ini didapat dari satu bungkus (paket) bubur yang dijual Rp.3.000.&lt;br /&gt;Para sekumpulan pedagang Bubur Madura ini, mereka nyaris tidak menjajakan dagangan secara tawar-menawar, umumnya mereka menjual per bungkus dengan harga Rp.3.000. Entah pembeli itu mau bubur campur (lengkap) atau mereka memilih berdasar selera.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tak Buka Cabang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kalau Anda bukan pecinta Bubur Madura, jangan sangsi untuk datang di lokasi ini sebab ada beberapa macam jajan pasar yang juga dijual disana. Jajan pasar macam nagasari, lepet, dan lemet turut disajikan dengan harga Rp.1.000 per satuan. Rasanya pun tidak kalah enak, karena jajanan itu juga buatan mereka sendiri.&lt;br /&gt;Karena kekhasan dan eksistensinya dalam mempertahankan kuliner tradisional, tidak mengherankan jika kebanyakan dari mereka menerima pesanan luar. “Biasanya yang pesan itu untuk kawinan atau acara peresmian, mereka rata-rata langsung borong semuanya. Kalau saya tidak menghitungi berapa bungkus, tapi semuanya dibeli antara Rp. 400 ribu-500 ribu,” kata Siti yang meneruskan usaha orang tuanya.&lt;br /&gt;Jika Anda penikmat Bubur Madura di Pasar Atom ini, jangan harapkan untuk menemuinya di tempat lain karena rata-rata tidak membuka cabang. Dan perlu diwaspadai pula setiap Sabtu dan Minggu, mereka terkadang balik pulang lebih sore karena dagangan ludes habis terjual karena saking ramainya.&lt;br /&gt;Sekadar diketahui, keberadaan Bubur Madura ini sudah tiga tahun berada di areal bawah Pasar Atom yang sebelumnya bertahun-tahun mangkal di areal sekitar parkiran lantai dua Pasar Atom. Jadi untuk urusan rasa dan harga nyaris tidak ada bedannya. Selamat mencoba…! - fonda august&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-4681126565556147282?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/4681126565556147282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=4681126565556147282' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/4681126565556147282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/4681126565556147282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2007/05/bubur-chinese-madura.html' title='Bubur &apos;chinese&apos; Madura'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-4105732630874705673</id><published>2007-05-14T21:07:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T00:49:30.822-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalis'/><title type='text'>Nacturama di KBS</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kebun Binatang Surabaya (KBS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertamasya Menyaksikan Satwa Malam&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menyaksikan langsung satwa malam tidak harus ‘menyangga’ mata semalam suntuk. Di Nacturama, semuanya terjawab pada siang hari.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bertamasya ke Kebun Binatang Surabaya (KBS), tidak lengkap jika tanpa mengunjungi seluruh ‘isinya’. Apalagi, jalan-jalan bersama keluarga hanya sebatas melongok satwa populer yang sering dijumpai pada siaran televisi. Ketika Anda mengunjungi KBS secara cermat, kepuasan refreshing kian semakin sempurna tatkala mengunjungi satu bidang bangunan berplakat ‘Nacturama’.&lt;br /&gt;            Mendefinisikan Nacturama secara gamblang bisa diuraikan dengan sebuah kalimat ‘sangkar khusus satwa malam’. Sangkar yang dimaksud disini bukan laiknya diperuntukkan bagi unggas, namun Nacturama hanya dihuni satwa malam non unggas yang biasa hidup di alam liar pada malam hari.&lt;br /&gt;            Jika Anda jarang mengunjungi KBS, bukan suatu kesalahan jika tidak tahu keberadaan Nacturama yang sudah ada sejak 1980-an. Tidak semakin salah tatkala kedatangan Anda ke KBS hanya sekadar refreshing tanpa ingin tahu seluruh isi kebun binatang satu-satunya di Surabaya yang sudah berusia puluhan tahun.&lt;br /&gt;            Mengapa demikian? Ya, menjujugi Nacturama tidak segampang mata memandang kandang satwa lain, karena posisi Nacturama berada pada satu kesatuan komplek akuarium. Paling sederhana setelah pintu masuk utama KBS, pengunjung harus menyusuri walking track sebelah kiri hingga sekitar 500 meter. Tanpa harus berbelok, pada jarak tersebut di sebelah kiri Anda akan menjumpai komplek akuarium.&lt;br /&gt;            Sayang, jika harus masuk komplek, pengunjung yang sudah beli tiket awal sebesar Rp.10.000 per orang, akan dikenai karcis tambahan sebesar Rp.3000. Begitu sudah memasuki komplek, tidak usah berpaling ke sebelah kiri dimana Anda akan menjumpai kolam Penyu, atau harus berjalan lurus menuju akuarium bermacam ikan hias.&lt;br /&gt;            Anda tinggal melewati jalan sebelah kanan melintasi kolam Arapaima Gigas dan kandang Buaya Muara. Tak lebih 300 meter berjalan, pas sebelah ujung komplek Anda akan menemui bangunan seperti layaknya gedung serbaguna. Nacturama bisa dijumpai di salah satu ruangan khusus gedung tersebut, dimana posisinya pas didepan Diorama (ruangan bersekat kaca yang menampilkan beberapa satwa yang diawetkan).&lt;br /&gt;Hewan Berkentut Bau&lt;br /&gt;            Ruangan Nacturama cukup jelas terdeteksi karena ada plakat yang menerangkan di atas pintu masuknya. Sesampai disana jangan heran tatkala menjumpai satu ruangan gelap yang bikin merinding. “Sengaja dikondisikan seperti alam aslinya, walau sekarang siang dibuat seperti malam. Beberapa lampu dimatikan tapi sangkar kaca tetap terang agar hewan dapat terlihat jelas,” kata Agus Supangkat, sie communication KBS.&lt;br /&gt;            Ada satu keunikan yang tidak bisa didapat dari lokasi lain di KBS, kendati siang hari suasana khas malam sangat terasa dengan menyaksikan langsung perilaku satwa yang biasa hidup pada malam hari. Jika Anda mengenal Musang (Paradoxurus Hematicus), Kalong (Fruit Bat), Trenggiling (Pangolin), merekalah yang mayoritas menghuni Nacturama. Setidaknya, ada sekitar enam sangkar alias ruang kaca di Nacturama yang dihuni satwa malam.&lt;br /&gt;            Ketika berbicara perilaku, para satwa malam ini tidak satupun mengalami perubahan layaknya di alam liar. Sebut saja Musang si pemilik kentut bau yang gemar bersembunyi di balik pepohonan, sementara satwa bernama Trenggiling tiada henti mengendus tanah mencari semut, dan perilaku Kalong yang bergelanyutan di ranting pohon. “Satwa-satwa disini tidak mengalami perubahan perilaku seperti aslinya. Mereka sudah merasakan Nacturama seperti alam liar beneran,” kata Sariyan (58), pawang sekaligus penanggung jawab Nacturama.&lt;br /&gt;            Berbeda dengan perilaku pengunjung di kandang satwa lain yang bisa kapan saja memberi makanan, di Nacturama tidak demikian. Ini bukan lain karena memang kondisi sangkar sudah tersekat kaca, jadi hanya pengurus atau pawang saja yang bisa memberi makanan melalui pintu belakang.&lt;br /&gt;            Namun jika pengunjung atau seseorang berkenan penjadi pengasuh satwa malam, pihak pengelola KBS tidak akan menolak. “Siapa saja bisa menjadi pengasuh satwa-satwa yang ada disini (KBS,red), termasuk yang ada di Nacturama,” kata Agus Supangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sariyan (58), pawang Nacturama&lt;br /&gt;Masalahnya Itu Lembab&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari mengurusi Nacturama sama halnya dengan merawat satwa lain yang ada di kandang luar. Tidak ada yang spesial atau sulit merawat satwa malam karena sudah tahu seluk beluknya. Ada beberapa aktifitas harian biasa dilakukan pria yang sudah bekerja di KBS sejak 1970-an.&lt;br /&gt;            Setiap pagi pria yang sudah empat tahun menjadi pengurus tunggal Nacturama ini membuka setiap pintu sangkar satwa malam untuk mengganti udara, hal tersebut dilakukan secara rutin agar satwa malam mendapat udara segar.&lt;br /&gt;Sayang ada satu perbedaan yang mendasar, jika di kandang satwa lain mendapati kesegaran udara bebas, maka di Nacturama tidak demikian. Di Nacturama, sirkulasi udara tidak berfungsi dengan baik. Keluar masuk udara tidak maksimal karena berada di dalam gedung, ini menyebabkan udara yang ada menjadi pengab alias lembab. Karena  itu perlu dilakukan perbaikan pengelola untuk kenyamanan pengunjung.&lt;br /&gt;Sesudahnya, perlakuan berikut dengan memberi makanan yang biasa dikonsumsi satwa malam. Kendati yang dirawat adalah satwa malam, bukan berarti pria yang pernah menjadi pawang unta dan beruang ini harus mengikuti ritme satwa tersebut. Memberi makanan satwa malam pun dilakukan pada siang hari mengikuti pola kerja harian. – fonda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-4105732630874705673?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/4105732630874705673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=4105732630874705673' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/4105732630874705673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/4105732630874705673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2007/05/nacturama-di-kbs.html' title='Nacturama di KBS'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2657600794977954678.post-8755300544517097341</id><published>2007-05-14T21:04:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T00:49:30.823-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalis'/><title type='text'>Berburu Pusaka Surabaya</title><content type='html'>Menyusuri Sentra Benda Kuno Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Rp.10 Ribu sampai Lemari Besi Tahun 1700 asal Belanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda pencari barang kuno, tidak harus melacak sampai ke pelosok daerah. Di Surabaya, mungkin saja kesempatan itu bisa Anda dapatkan di lokasi yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kolektor pencari benda-benda kuno, mendatangi daerah yang mempunyai sejarah panjang mungkin menjadi alternatif utama untuk mendapatkan barang incaran. Apalagi barang yang dicari mempunyai nilai sejarah tersendiri, atau bahkan ada yang menganggap keramat (pusaka) dan bernyoni.&lt;br /&gt;            Tapi, salah besar jika anggapan diatas dijadikan persepsi yang tak terbantahkan. Sebab, kota metropolis macam Surabaya bisa menjawab kebutuhan hobi tersebut. Tidak percaya, di Surabaya setidaknya ada dua titik sentra barang-barang kuno yang mudah didapatkan dan terbilang lengkap, seperti halnya di komplek Pasar Turi lama, dan di kawasan gedung serbaguna Gelora Pancasila.&lt;br /&gt;            Berjalan-jalan ke Pasar Turi, tidak melulu pakaian dan perlengkapan rumah tangga berharga murah bisa didapatkan. Kendati Pasar Turi mempunyai predikat sentra dagang berskala grosir kebutuhan sehari-hari, tetap saja Pasar Turi tidak melenyapkan sentra ‘sejarah’ di kompleknya.&lt;br /&gt;            Jika Anda berkenan mengunjunginya, jangan segan untuk bertanya pada petugas atau pedagang yang sudah lama bekerja disana. Alasannya, sentra barang kuno tidak gampang untuk dideteksi karena posisinya berada di salah satu sudut bangunan bagian atas Pasar Turi lama.&lt;br /&gt;            Pasar Turi lama berada di bagian belakang dari Pasar Turi baru jika Anda memulai perjalanan dari area parkir motor. Tapi jika melongoknya dari Jl. Dupak maka posisi Pasar Turi lama berada di depan bagian kiri.&lt;br /&gt;Ketika sudah menjumpai Pasar Turi lama, Anda tinggal mengurutkan jumlah lantainya, karena sentra barang kuno ini berada di bagian lantai tiga (3), bagian ujung sebelah kanan.&lt;br /&gt;            Atau jika Anda merasa kesulitan mendeteksi, setidaknya ada satu kata kunci yang patut digunakan untuk bertanya kepada petugas atau pedangan di kawasan itu. Adalah ‘Keris-keris’, kata sandi yang akrab dengan telinga mereka.&lt;br /&gt;            Sesampai disana tidak perlu terkejut, karena mungkin Anda terheran dengan rentetan keris berjajar di seluruh ruang stan pedagang. Memang barang berjuluk keris mendominasi kurang lebih 16 stan pedagang yang ada disana, tapi mereka para pedagang tidak semuanya menjual senjata masa lampau tersebut.&lt;br /&gt;            Misalnya saja Ruksam (51) salah satu pedagang dari 16 orang pemilik stan disana, di stan bagian dalam miliknya juga dipenuhi dengan aneka keris bersandingan rapi. Mulai keris seumur jagung-yang biasa digunakan sebagai mainan dan penghias-sampai keris berumur puluhan tahun.&lt;br /&gt;            “Disini (Pasar Turi lama,red) dikenal sebagai sentra barang kuno, khususnya keris. Kadang masyarakat menganggap kalau barang yang dijual disini cuma keris saja yang tidak mempunyai nilai sejarah. Itu salah besar, toh kebanyakan dari kami (pedagang) juga mempunyai keris dan baran kuno lain yang langka,” katanya.&lt;br /&gt;            Menurut pria yang sudah berdagang sejak 1972 lalu, sentra barang kuno di Pasar Turi ini sebenarnya tidak hanya menjajakan keris baru dan kuno seperti yang dikoleksi yaitu ‘Pamor Sekar Mayang’ era Majapahit dan ‘Panembahan’ khas Sumenep, Madura. Toh, barang kuno seperti topeng Bali, patung, wadah makan dan keramik berusia puluhan tahun tidak ketinggalan dijajakan.&lt;br /&gt;            Persoalan yang sama dengan sentra lain, bagi kolektor yang mempunyai barang incaran tidak semuanya akan terpenuhi di sentra ini. Kelengkapan barang kerap jadi alasan, mereka para pedagang sering kali mengandalkan kiriman barang kuno dari beberapa penyuplai tanpa harus hunting sendiri barang kuno yang sedang ngetren.&lt;br /&gt;            “Di Sentra ini memang tidak begitu lengkap, tapi jangan bicara harga karena barang jualan ada yang murah Rp.10 ribuan. Yang istimewa (kuno dan bernilai sejarah tinggi) pun kadang ada disini, dijualnya sih bisa melampaui Rp.100 juta lebih,” kata Ruksam yang merupakan pedagang turunan dari dua generasi diatasnya.   &lt;br /&gt;Boyongan dari Jakarta&lt;br /&gt;            Beda Pasar Turi, beda pula Gelora Pancasila. Ketika sentra barang kuno Pasar Turi sudah beroperasi puluhan tahun lalu, delapan kios barang kuno di kawasan stadion ini baru buka pada hitungan lima tahun lalu (2002).&lt;br /&gt;            Rata-rata dari mereka merupakan pedagang ‘ungsian’ dari Jakarta, tepatnya Jl. Surabaya. Entah mengapa atau harus menghindar dari obrakan, mayoritas dari mereka memutuskan untuk boyongan ke Surabaya dengan pekerjaan yang sama. Sementara mereka memutuskan untuk membuka kios di kawasan Gelora Pancasila bukan tanpa sebab, posisi strategis menjadi bidikan utama.&lt;br /&gt;            “Alasan kami berdagang disini karena lokasi strategis, yang kami cari adalah lokasi yang dekat dengan perkotaan dan khususnya hotel. Enak jika sudah menemukan lokasi itu, maka akan menjadi tempat tujuan yang tepat,” Tatang Zembar (38) salah satu pemilik kios yang asli Bandung.&lt;br /&gt;            Lokasi strategis dan dekat hotel menjadi bidikan karena segmen pasar kelas menengah menjadi incaran. Tidak sedikit turis-turis asing yang bekerja dan menginap di sekitar kawasan kerap mendatangi kios barang kuno ini untuk membidik benda bersejarah sebagai oleh-oleh di negara asal. Harga barang tergolong variatif, mulai Rp.100 ribu sampai Rp. 5 juta tersedia, bergantung jenis dan umur barang yang dijual.&lt;br /&gt;            Tidak berlebihan jika mereka para turis kerap datang, karena kelengkapan barang ketimbang Pasar Turi sangat terpaut jauh. Bayangkan jika perlengkapan furnitur, porcelain, patung, aksesoris, serta yang paling dikenal aneka lampu bisa didapatkan secara mudah disana. Bahkan yang terbilang kuno kadang ada disana, sewaktu Metropop mengunjungi salah satu kios, mendapati satu lemari besi dari tahun 1700-an asal Belanda yang siap dijual.&lt;br /&gt;            Keberagaman barang dagangan tidak lepas dari peran mitra bisnis seperti penyuplai di daerah-daerah. Ikatan yang kuat dan kepercayaan menjadi modal pengusaha di lokasi itu untuk mendapatkan barang-barang kuno yang berkualitas. Berkat kepercayaan yang dibina tersebut, jangan heran jika omzet dari rata-rata per kios antara Rp.15-20 juta per bulan.&lt;br /&gt;“Para pemasok dan kami sudah saling percaya, jika barang yang dibeli asli maka harus ngomong asli. Jika barang palsu, maka harus jujur mengatakan palsu. Karena kalau tidak, maka kami akan ditinggal pelanggan,” imbuhnya.&lt;br /&gt;            Ikatan yang kuat dalam berbisnis dan melestarikan barang kuno inilah yang mendorong mereka para pedagang untuk tetap eksis menjadi salah satu dinamika kota metropolis. Baik pedagang di Pasar Turi lama dan Gelora Pancasila, berharap dan membutuhkan perhatian pemerintah setempat. Ruksam dan Tatang mewakili pedagang yang lain, berharap jika pemerintah kota membantu dalam bentuk promosi karena sentra dagang barang kuno ini mulai terpinggirkan dari sorotan mata pecinta benda-benda kuno nan bersejarah. – fonda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2657600794977954678-8755300544517097341?l=tintawarna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tintawarna.blogspot.com/feeds/8755300544517097341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2657600794977954678&amp;postID=8755300544517097341' title='30 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/8755300544517097341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2657600794977954678/posts/default/8755300544517097341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tintawarna.blogspot.com/2007/05/berburu-pusaka-surabaya.html' title='Berburu Pusaka Surabaya'/><author><name>FONDA AUGUST</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09281944049362540151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_tr-ZFez76S8/SAxASdDxNHI/AAAAAAAAACE/JPjR1wi4meY/S220/fonda.jpg'/></author><thr:total>30</thr:total></entry></feed>
